Literasi Membaca adalah Bintangku
Oleh : Meike Widia Azmi
( SDN 1 Dasan Tereng )
“Bu guru, hobi bu guru apa ? “ spontan terucap dan terdengar jelas oleh telinga saya pertanyaan salah satu siswa yang sedang mengerjakan tugasnya di dalam kelas, tepat di meja tulisnya. Saat itu suasana di dalam kelas begitu hening, sehingga sontak pertanyaan itu memecahkan keheningan. Saya yang sedang duduk di kursi sembari mengisi beberapa administrasi kelas menjadi terhenti. Terbayang beberapa puluh tahun yang lalu dengan hobi saya disaat masih kecil dulu ( SD kelas 3 – 6 ), tahun 2001 – 2005. Waktu itu saya senang sekali dengan menulis dan tentunya membaca. Saya sering menulis curhatan di dalam buku kecil ( diary ) tentang kegiatan sehari – hari, dari kegiatan yang menyenangkan sampai yang menyedihkan, serta membaca buku – buku cerita yang dipenuhi dengan gambar. Misalnya, bawang merah dan bawang putih, ikan mas ajaib, serta buku – buku ringan lainnya.
“ Hobi bu guru menulis dan membaca nak”. Begitu jawab saya. “ Namun, dikala bu guru SD dulu, membaca buku itu hanya nebeng dari teman – teman yang membawa buku ke sekolah, yang memang sengaja dibawa untuk dibaca beramai – ramai. Bahkan ketika bu guru kelas 6 SD dulu, bu guru sering membuat catatan kecil berupa ringkasan dari pelajaran yang sudah diberikan. Jadi waktu itu, bu guru sangat akrab dengan dunia membaca dan menulis.” Begitu lanjut saya menjawab pertanyan siswa saya. Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan oleh mereka. Saya pun menjawab satu persatu pertanyaan tersebut. Semua pertanyaan mengarah ke dalam literasi.
Literasi memang tidak bisa lepas dari dunia pendidikan. Baik dari zaman ke zaman. Literasi merupakan kemampuan yang dimiliki oleh siswa untuk menggunakan potensi dan ketrampilan dalam dirinya untuk mengolah dan memahami informasi saat melakukan aktivitas di sekolah seperti membaca, menulis, dan berhitung. Literasi membantu siswa mengenal, memahami dan menerapkan ilmu yang didapatkan di bangku sekolah untuk diterapkan dalam kehidupan sehari – hari dalam memecahkan masalahnya baik dalam lingkungan sekolah, rumah ataupun masyarakat.
SDN 1 Dasan Tereng termasuk salah satu sekolah dengan kegiatan literasi yang belum dikembangkan secara optimal. Hal tersebut dikarenakan kurangnya pemahaman warga sekolah, terutama para guru dan siswa tentang pentingnya kemampuan literasi. Perpustakaan yang seharusnya ramai dan menjadi tempat idola bagi para warga sekolah berubah menjadi tempat yang kian sunyi dan sepi dari pengunjung. Minat baca yang sangat kurang menjadikan pemanfaatan perpustakaan kurang maksimal sehingga ribuan buku di dalam perpustakaan menjadi terabaikan.
Melihat keadaan seperti itu, tentunya kepala sekolah saya, Nuraini, S.Pd.SD mengadakan rapat bersama semua guru. Dalam rapat tersebut kepala sekolah bersama guru membuat satu gerakan literasi dengan sebutan ”Aksi Libat Guru dan Siswa” atau “Aksi Literasi Baca Tulis Guru dan Siswa.” Dari namanya jelas menunjukkan bahwa kegiatan literasi tidak hanya berpusat kepada seluruh kegiatan dan kemampuan siswa, namun juga pentingnya peran guru dalam kegiatan tersebut. Artinya bahwa masing – masing guru kelas bertanggung jawab untuk mendampingi setiap siswanya selama proses kegiatan literasi berlangsung. Kegiatan Aksi Libat Guru dan Siswa ini dilaksanakan setiap hari selasa, rabu, kamis dan jumat. Hari senin kami isi dengan kegiatan upacara bendera, sedangkan hari sabtu kamu biasanya melakukan kegiatan senam pagi.
Ketika bel sekolah berbunyi, 30 menit sebelum kegiatan belajar efektif dimulai, tepatnya pukul 07.00 – 07.30, semua siswa duduk di depan kelas masing - masing dengan membawa satu buku bacaan nonpelajaran untuk dibaca. Semua guru tentunya berlomba - lomba datang lebih awal agar bisa mendampingi setiap kelas yang diampunya. Begitu juga dengan saya. “Jarak yang jauh bukan menjadi halangan untuk datang lebih awal.” Begitu pikir saya. Setelah 15 menit berlangsung, siswa kami berikan kesempatan untuk menceritakan ulang cerita yang dibaca dengan menggunakan kalimat daan bahasa sendiri. Setiap siswa yang berani tampil nantinya akan bercerita di depan seluruh siswa. Keberanian siswa tentunya sangat dihargai. Guru memberikan reward kepada siswa yang berani tampil dan menceritakan kembali cerita yang dibacanya.
“Ayo anak – anak, siapa yang mau bercerita di depan teman – temannya? Anak yang berani maju adalah anak yang hebat “ begitu kalimat yang diucapkan oleh kepala sekolah menggunakan pelantang suara. Untuk kelas rendah ( 1, 2, dan 3 ) bisanya diukur kecepatan membacanya dalam 1 menit. Berapa banyak kata yang didapatkan. Sedangkan kelas tinggi ( 4, 5, dan 6 ) diminta untuk menceritakan ulang cerita yang dibaca menggunakan bahasa dan kalimatnya sendiri. Beberapa anak ada yang berani maju. Mulai dari kelas 1 sampai kelas 6. Begitu banyak cerita yang menarik dan tentunya menyenangkan untuk didengar. Ratusan tepuk tangan membanjiri halaman sekolah serta puluhan reward diberikan kepada siswa yang berani tampil bercerita. Sebelum memasuki ruang kelas, ibu kepala sekolah berpesan kepada semua warga sekolah, terutama kepada semua siswa agar lebih memanfaatkan perpustakaan secara maksimal dengan cara membaca atau meminjam buku. Dengan begitu, akan lebih banyak lagi anak yang berani tampil untuk bercerita.
Aksi Libat Guru dan Siswa tersebut benar - benar membuahkan hasil yang manis, dan salah satunya bagi perpustakaan. Perpustakaan di sekolah saya menjadi ramai. Semua siswa pastinya akan berkunjung dan tentunya meminjam buku dari perpustakaan. Siswa yang berkunjumg ke perpustakaan nantinya akan mendapatkan namanya dalam gulungan kertas kecil yang akan dimasukkan ke dalam kotak undian. Satu minggu sekali, tepatnya hari senin usai upacara bendera, para guru akan memilih 3 kertas gulungan dan mengumumkan anak yang berhak mendapatkan reward atas ke-berkunjungan-nya di perpustakaan.
Tak mau kalah dengan kegiatan literasi di luar kelas. Saya juga membuat gerakan literasi membaca di dalam kelas. Saya mengajar di kelas 3B. Saya biasa dipanggil bu guru Mike. Mengajar di kelas rendah menurut saya penuh dengan tantangan. Bagaimana membangkitkan motivasi belajar siswa agar lebih semngat dalam belajar. Namun, tantangan itu berhasil saya tuntaskan dengan gerakan literasi membaca 15 menit di awal pembelajaran. Aturan yang sama dengan kegiatan literasi di luar kelas, setelah membaca buku bacaan saya mengharapkan siswa saya mampu untuk menceritakan kembali apa yang sudah dibaca menggunakan kalimat dan bahasanya sendiri.
Seperti yang kita ketahui, siswa kelas 3 diberikan tantangan bukan hanya untuk berhitung, dan membaca namun juga untuk menulis. Untuk menghasilkan tulisan yang bagus, indah, rapi dan menarik tentunya saya memberikan latihan bercerita setiap hari di awal pembelajaran. Sebelum bercerita, mereka saya tugaskan untuk menulis ceritanya kembali di dalam buku tulisnya. “ Tulislah apa yang kamu pikirkan, jangan pikirkan apa yang akan kamu tulis. Masalah benar atau tidaknya, nanti kita perbaiki sama – sama.” Begitu motivasi saya kepada anak – anak. Selain itu, saya juga memberikan contoh bagaimana bercerita dengan baik dan benar kepada mereka. Saya menceritakan cerita yang tentunya menarik dan membangun motivasi belajar.
“Nah, anak - anak, itu dia ceritanya bu guru. Menarik tidak? Seneng tidak kalau diceritakan? Seneng tidak kalau bisa bercerita?” Begitu pertanyaan saya usai bercerita. “Iya, bu guru. Mau. Saya mau bercerita.” Begitu teriak anak – anak menjawab pertanyaan saya. Terlihat tawa yang begitu lepas dan senyum yang begitu merekah membuat saya merasa senang dan tentunya semakin mensyukuri profesi saya sebagai seorang guru. Semenjak itu, semua siswa saya merasa antusias untuk bercerita di depan kelas. Tidak ada lagi kata takut, ragu, dan malu untuk bercerita. Keesokan harinya, mereka sudah siap untuk bercerita. Begitu memasuki ruang kelas, mereka berebut meminta untuk bercerita. Ada yang bercerita tentang bawang merah dan bawang putih, si kancil dan buaya, sampai cerita tentang rumah yang angker. “ waaahhh, luar biasa anak – anaknya bu guru. Beri tepuk tangan yang meriah untuk kelas 3B.” Begitu ucapku kepada mereka.
Untuk menghargai keberanian dan tentunya ketrampilan anak dalam bercerita, saya memberikan reward berupa bintang. Bintang tersebut saya buat menggunakan kertas warna, yang kemudian saya beri judul “Literasi Membaca adalah Bintangku.” Tiap anak yang berani tampil bercerita akan diberikan 1 bintang. Semakin sering tampil, semakin banyak pula bintang yang diperolehnya meskipun nantinya siswa hanya bercerita beberapa kalimat atau bahkan hanya menyebutkan judul dan nama pengarang dari buku yang dibacanya. Setiap usaha kecil siswa untuk membaca dihargai dengan 1 bintang. Siswa yang memiliki bintang terbanyak akan mendapatkan reward di akhir tahun ajaran baru.
Tiga tahun terakhir, Kegiatan “Literasi Membaca adalah Bintangku” menghasilkan buah yang begitu manis bagi saya, siswa dan tentunya sekolah. Siswa sudah bisa menulis, membaca dan bercerita dengan baik. Dan tentunya kebanggan bagi diri sendiri dan sekolah atas juara 1 lomba membaca tingkat kecamatan dan juara 2 lomba calistung klasikal tingkat kabupaten.
